Jumat, 04 September 2009

turut berduka atas korban2 pada peristiwa gempa bumi yang melanda pulau jawa. ini merupakan ujia dari Tuhan agar kita tetap bersabar menjalani hidup ini semoga cobaan ini menjadikan iman dan kmetaqwaan kita semakin meningkat

Senin, 24 Agustus 2009

artikel pilihan


Shaman dan teknologi
Sebuah arus seharusnya bisa di jinakkan.Seperti halnya makna teknologi sekarang, lihat saja, bagaimana ketergantungan untuk sms, dan menelpon mengalahkan kebutuhan telpon rumahan. Penjauhan persinggungan individu mengakibatkan kepentingan yang tadinya lebih kearah sosial menjadi arah individual. Pribadi, wilayah private. Namun apa jadinya fungsi dan wilayah kausal dari shamanistik di lokal scene saat ini ? Shaman alias dukun, alias aplikasi kepentingan mistik. Seakan mewakili kacamata timur dalam memandang persoalan hidup. Arus kultur tentang budaya manusia di Indonesia yang memang dari dulunya melihat unsur pijakan spiritual sebagai acuan hidup. Adanya pusat dunia bawah dan tengah serta luar ,di yakini sebagai wujud lain transendensi kepemilikan hidup manusia.Hendrawan Riyanto, Photograph in Action Poetry Poet of the Body, 2002 (Performance/ Action Art)Kita hidup bukan sebagai lahir, berkembang biak dan mati.Ada kepentingan lain yang mendasari jika memang manusia itu hidup untuk menciptakan sesuatu. Hal mana yang di yakini sebagai perbedaan, progres dan kemajuan adalah modernitas futuristik sebagai roh kehiddupan manusia barat. Hidup selaras dengan alam telah lama mulai di tinggalkan , semenjak arus penuh acuan hidup berkat globalisasi ini. Dalam hal ini terkadang sinkronisasi belum tercapai. Hal yang berimbas jauh pada transendensi makna tentang teknologi, dan pemahamannya. Yang ternyata tak bisa semuanya di laksanakan secara global. Ada pro dan kontra. Sesuatu yang dalam hal ini dapat dikaitkan secara langsung kepada kepentingan sistem. Sistem usang yang di padu dengan arus baru. Maka tak heran rasanya, istilah gagap teknologi dan penyalahgunaan fungsi sebenarnya terasa, karena memang kultur yang di ciptakan dari awal tak melihat pada kepatuhan unsur rasional belaka.Joseph Beuys: How to Explain Paintings to a Dead Hare, Photo from Performance on Nov. 26, 1965. Globalitas basi, menuai kepentingan salah kaprah. Arus teknologi dengan pemahaman sejajar soal identitas dan status mungkin tak akan layak di perbandingkan , seperti halnya saat orang sedang menenteng nenteng kardus new iMac G5 terbaru di tengah kerumunan tempat pelelangan ikan sambil berjalan ke arah dukun, wadul alias gak nyambung. Siapapun dan apapun wujud teknis tak mengenal usia, batas kelamin dan ras.Karena itu, hidup di mana kita berada mengalami dinamika atau perubahan terus-menerus secara alami. Bila kemudian kita menilai bahwa perubahan yang terjadi di Bumi ini menjurus kepada keadaan krisis, hal itu tentu penilaian subyektif.Membandingkan dengan tayangan tayangan gaib di televisi ? rasanya bisa di tebak kegagalan arus dimensi rasionalitas di Timur mengakibatkan Timur kehilangan kendali atas sebuah arus kekaryaan dan penciptaan akan kemajuan teknis sebuah pengetahuan. Dalam hal ini terkadang dialog antara timur dan barat berlangsung dengan sangat pelik dan runyam. Sayang kerapkali ini bisa di salah artikan, Timur dianggap lebih mengacu pada unsur unsur lain selain rasionalitas. Mistisisme dan spiritualitas timur justru kerapkali melahirkan kondisi pencerahan yang lebih baik. Disinilah kerap menjadi persinggungan, benturan dan pengejawantahan yang keliru.Modern dan kecanggihan tak selalu nyaman rupanya. Friksi terkadang amat sangat di butuhkan untuk mengoptimalisasikan gerak dan wahana tubuh itu sendiri. Teknologi tak selalu lebih baik ternyata. Sekali lagi itu hanya medium. Sama halnya dengan ketika komunikasi dengan makhluk lain ada di luar sana dan kasat mata.Yang kita yakini jika itu ada tentunya.
posted by wahyudi pratama @ 12:33 PM 1 comments
Friday, February 25, 2005

Forever Delayed ( 2003 )
Apa yang mulai di bahas tentang band ini ?1. Anti Kapitalis2. Drugs and Rock N Roll ( entah Sex nya di mana )3. Politik Kekiri kirian4. Ngetop banget + Gila BolaDiawaki oleh 3 orang, James Dean Bradfield , Sean Moore dan Nicky Wire. mengeluarkan album Motown Junk tahun 1990 yang sangat terpengaruh riff riff nya Guns N Roses di album album awal,Apetite For Destruction + Punk ala The Clash.Salah satu dvd yang cukup termasuk sering di tonton oleh saya. Ada sekitar 30 lagu dan video klip, dimulai dari "Motown Junk" (1990) sampai "There by the Grace of God" (2002). Termasuk di dalamnya beberapa klip lawas yang masih manghadirkan sang gitaris lama, Richie Edward, sebelum dia hilang dan tak pernah kembali hingga kini.Sebelumya juga ada koleksi yang cukup mengasyikkan ketika Manic Street preachers, tampil di Cardiff Stadium, Leaving The 20th Century - Cardiff Millennium Stadium 1999/2000 , aksi live yang cukup keren di penghujung tahun 99.Salah satu dari sekian band yang mengemas pesan pesan anti kapitalisme yang di wujudkan pada haluan politis musiknya. Cukup radikal dalam merilis kata kata dalam lirik, terlalu banyak dipengaruhi idola mereka seperti The Clash, mungkin. Saya tak punya kata kata lebih untuk band yang udah malang melintang lebih dari belasan tahun dan punya nama besar di Inggris ini.
posted by wahyudi pratama @ 4:32 PM 2 comments
Wednesday, February 23, 2005

Filsafat Sakit Perut
Dimulai dengan ...sakit perut.Saya yakin jika kita mengalami kondisi di mana seakan akan gelembung udara di dalam perut yang kian mendesak dengan terganggunya pencernaan karena kesalahan asupan zat zat dari makanan yang selalu telat dan tak teratur.Wah, ternyata sakit perut karena hal ini memiliki dua kajian makna sesungguhnya. Satu lari terbirit birit setiap ada kesempatan ke WC, sedangkan yang kedua, sebisa mungkin menahannya. Menahan sakit perut di tengah rapat kantor adalah resiko yang amat sangat mengerikan dan ketika terbirit birit di pagi hari harus bangun sementara malamnya menderita sakit perut tak berkesudahan. Hmmmm ....bukan sebuah kondisi yang mengenakkan.James Turrell, Night Passage, 1987 - new mediaDan saya sering melamun, betapa hal ini bisa membuat kita tak berdaya. Kondisi fisik manusia yang kian lama kian rapuh.Diakibatkan apa yang kita konsumsi selam aini sudah disusupi segala macam agenda politis dan infiltrasi ideologis semata dengan kadar gizi yang amat rendah,jelas jelas mengesampingkan nilai kesehatan. Dengan kata lain, unsur kimiawi.Saya pernah membaca, biasanya jenazah ditaruh di sebuah peti kayu dan dibakar pada suhu 760 – 1150 derajat Celsius. Abu pembakaran kira-kira beratnya sekitar 5% berat jenazah. Jika dahulu temperatur panas yang di pakai untuk menakar mengkremasi jenazah cukup dengan skala sedemikian rupa, maka saat ini jenazah yang hendak di kremasi, temperaturnya harus di set berlipat kali dari 760 - 1150 derajat celcius,untuk lebih mempercepat proses menjadi abu (sialnya saya lupa sumbernya). Ternyata tubuh manusia sudah menjadi sedemikian alot dengan banyaknya unsur lain yang terdapat di dalam tubuhnya.Perut adalah bagian dari tubuh, wilayah penting tentang bagaimana asupan zat yang dibutuhkan dan tidak di butuhkan oleh tubuh diolah disini. Dan zat zat yang dibutuhkan tentunya amat memungkinkan kita segar dan sesuai dengan porsinya dalam beraktifitas.Matthew Barney,CREMASTER 5,1997 - Video, Performance Art, Mix mediaPerhatian kita terhadap tubuh ternyata telah berputar pada segala macam nilai dan fisik yang lebih riil. Makna ideologis lewat pengukuhan identitas berganti rupa saat fisik di terapkan dalam hubungannya dengan keberlangsungan hidup. Sebuah wacana yang memiliki keberlangsungan konsep dengan fisik dan inderawi.Sebuha wilayah kajian ketika identitas gender, fashion, rangka ke-gaya-an hidup berlangsung dalam siklus superfisial berubah menjadi pahit ketika organ penting dari dalam tubuh sendiri menjerit jerit minta di perhatikan. Tubuh sendiri dari semenjak sejarah Adam - Hawa terdeteksi, sudah menjadi semacam seismograf atau alat pencatat detil tiap aktifitas dari kebudayaan. Sesuatu yang luar biasa kompleks jika hal ini sendirian tanpa di bandingkan oleh sistem mekanis organ dalam tubuh yang merupakan sesuatu yang kerap di perhatikan. Ini menjadi pembeda pula ketika wacana tubuh di kaitkan dengan kepemilikan penis dan vagina. Konsep dan ribuan konsep androginitas tak akan usai dan beres ketika salah satu pihak dan dominasi saling klaim ulang wilayah kajian dan ideologis. Ketika salah satu pihak memuja ideologi maskulinitas dan satunya lagi konsep kecantikan femininisme maka kontradiksi tetap terjaga. Secara sadar atau tidak friksi dan pertentangan antara tarik ulur wilayah selalu terjadi.Inilah metafora, sebuah bentuk wacana ataupun proses yang bersifat retorik yang memungkinkan manusia mendapatkan kemampuan aneh untuk mendeskripsikan kenyataan,jika dia mengalami ...sakit perut yang tak berkesudahan. Akibat salah makan tentunya.
posted by wahyudi pratama @ 3:21 PM 6 comments
Tuesday, February 22, 2005

Temporary Work Of Art
Membicarakan karya seni rupa dari seorang Christo adalah fenomenalitas yang di sandarkan pada respon bentuk dan bangunan. Berikut cuplikan dari karya karya terbarunya, " The Gates", yang di pamerkan selama 16 hari di di Central Park, New York. Karya yang direncanakan dari tahun 1979 dan terealisasi semenjak 2004 akhir dalam proses display dan persiapannya untuk di buka dan di pamerkan dari tanggal 12 Februari sampai 29 Februari 2005.Bisa di bilang, setelah fenomena karyanya membungkus gedung parlemen di Jerman, Reichstag, maka karya ini merupakan salah satu pencapaian artistik kesekian kalinya.Selalu, selalu memandang bahwa persoalan bentuk, imaji dan impact karya perupaan yang luar biasa bisa diwujudkan.Inilah yang ditunjukkan oleh Christo, salah satu pilihan wujud artwork yang luar biasa. selengkapnya >>(Walau saya percaya, segala permasalahan bentuk serta muatan nilai penyajian dapat di hasilkan mulai dari karya seni sebesar kacang polong sampai setinggi menara petronas pun)
posted by wahyudi pratama @ 6:44 PM 4 comments
Monday, February 21, 2005

Imajinasi (liar dan tak beralasan)
Menunggu inspirasi muncul ternyata sudah gak musim lagi :PImajinasi ternyata bukan lagi sekedar cas cis cus awang awang yang di terjemahkan dalam visual dan teks otonom. Imajinasi menjadi semacam heroine yang mengakibatkan transendensi alam bawah sadar dan realitas saling bersinggungan. Joseph Beuys - I Like America and America Likes Me/1974/performance art with coyote/pic 1Sesuatu yang jelas berbeda ketika imajinasi dan logika nalar di pakai untuk saling mengukur kadar keberadaanya. Sistem yang menyimpan keniscayaan sebagai alat vital komposisi pengaruh kemajuan dalam berpikir.Sebagaimana kita medistribusikan dengan baik dan memberikan jalur logis yang lebih nyata dalam bentuknya.Imajinasi liar menjadi sesuatu riil yang luar biasa.Dan inilah sesuatu yang seharusnya di produksi terus menerus. Menjaga konsep ideal berimajinasi dan menuangkan gagasan secara militan.pic 2Hal ini sesungguhnya yang kerap menjadi wilayah yang cenderung tak terbatas yang kerap kali di tautkan dalam ungkapan teks, visual, invensi dan lain sebagainya. sesuatu juga yang di sebut aura yang muncul setelah nalar logika bersambung tegas dengan imajinasi yang menghasilkan pemahaman wujud akhir yang luar biasa.Hal yang merindukan katarsis, seandainya logika dan imajinasi tidak menghasilkan sesuatu yang menjembatani, maka wahana misteri 'imajinasi' akan tak terungkap dan tetap menjadi misteri (yang basi).Toh, saya sepertinya berbicara yang indah indah saja tentang logika dan imajinasi ini tanpa saling berkaitan, saya seperti kembali ke era lampau. Sesuatu yang di ulang ulang oleh para pemikir dan perupa di masa romantis. Menunggu ilham jatuh dari langit ternyata sudah usang. Memeliharanya ternyata merupakan prioritas yang tak lagi cerdas rupanya.
posted by wahyudi pratama @ 9:05 AM 5 comments
Thursday, February 17, 2005

Republik Orang Gak Punya
Miskin adalah ketakutan.Hidup berkecukupan, bahagia dan punya simpanan materi sampai tujuh turunan.Dan sudah mati pun ingin masuk surga.Semua orang punya mimpi yang sama, hidup dalam dunia yang nyaman dan tentram. Semua impian yang saling menautkan ketergantungan akan hidup yang lebih baik. Mimpi yang tidak salah. Dan bermimpi pun tak akan pernah dianggap bersalah.Kathe Kollwitz,Poverty (1893-94) etching and drypointBam! bagai peluru yang menembus lapisan tengkorak menuju inti otak dan menghancur leburkan jaringan fisik dalam isi kepala sampai terburai keluar dan menyapa dunia. Realita menghantam dengan kerasnya!. Realita adalah kehidupan yang terkadang penuh dengan konflik,imaji, kelas dan kekerasan.Terkadang pun kekerasan yang terlahir dari refleksi dan luapan moral terbentur dengan realitas. Moralitas terungkap dalam bentuk tekad bathin dan menjadi pendorong paling kuat terhadap tindakan moral. Yang bersumber pada kaidah bathiniah yang terdalam.Hidup menjadi penuh dengan letupan letupan friksi yang satu sama lain saling bertentangan. Kemakmuran batiniah menjadi jalan akhir dari perjalanan fisik dalam mengarungi hidup. Kekalahan dan kemenangan mereka dalam mengarungi hidup ternyata bukan main luar biasa artistik. Ini menjadi penyangkalan dalam mencapai orientasi kebendaan.Sama halnya dengan perbedaan kelas dalam hidup.Lapisan sosial yang terdiri dari benda dan wujud materi mengesampingkan kebersamaan dan memunculkan naluri terdalam. Ketakutan menjadi miskin. Dan kemiskinan adalah musuh.Ini juga yang membuat sebuah pertanyaan : memerangi kemiskinan dimananya ???Jurang ketidakadilan terjadi,kesejahteraan rakyat pada umumnya meratap ketitik nadir .Kuasa hasrat budaya masyarakat besar dan kecil.Menjadi konsumtif karena dorongan aksi kapitalistik besar ternyata menjadi pilihan politis masyarakat awam sekalipun.Dan pada akhirnya, segala bencana dan musibah akhir akhir ini, melempar wujud kemanusiaan dalam empati paling dasar ke dalam dunia yang sesungguhnya.Wujud kemanusiaan tanpa batas. Friksi dalam memanusiakan dirinya sendiri.Kemanunggalan eksistensial itu ternyata sangat mahal harganya. Maka baiklah tidak ada yang memanipulasinya.Bagaikan mutiara yang sudah hilang, namun kini diketemukan kembali.Kami berhak untuk hidup layak dan lebih layak tentunya.(gara gara postingan hari ini di blognya pakde kere kemplu neh hehehe)
posted by wahyudi pratama @ 3:31 PM 2 comments
Wednesday, February 16, 2005

Luar biasa
Entah bagaimana yang melawak dan bagaimana yang menyanyi. Lawak dalam lagu dan melucu saat bernyanyi. tapi sejujurnya,saya amat sangat tertarik. Sebuah cover kaset idaman. :P
posted by wahyudi pratama @ 8:56 AM 4 comments
Tuesday, February 15, 2005

Evolusi keberpihakan
Apa yang kita lakukan untuk memahami dunia luar serta menerapkan wacana berpikir dalam konteks lokal ?Ini yang saya pikir bisa di lakukan dalam mengkaji keberpihakan kita terhadap bingkai bingkai kontestual, selain banyak hal lain yang di pakai dan ramai di bahas untuk mengkritisi euphoria kebebasan sosial politis yang cenderung menjamur, dalam karya seni, sastra dan film eksperimental belakangan ini.Nam June Paik /the Electronic Superhighway, 1990/"Global Encoder"Lihat bagaimana globalitas memaknai tayangan televisi dan seluruh kaki tangan media itu sendiri, dan bagaimana pula kita lebih berhati hati menyikapi trend dan apa yang ada di sekeliling kita itu sendiri. Kehati hatian yang lebih majemuk.Walau secara sadar kita menggunakan hal tersebut. Membingkai persoalan yang muncul dan apa yang kita santap sehari hari, visual, estetika, media dan informasinya,serta budaya dan hidup-gaya. Adalah utuh untuk lebih merayakan sikap penolakan dan penerimaan secara bersamaan. Seperti inilah, sikap provokasi yang lebih halus dengan wilayah Kaji Budaya, yang menghilangkan batasan populerisme dalam keseharian kehidupan masyarakat dengan estetika tingkat tinggi sehingga muncul nilai nilai nisbi. Sebagai wujud naluriah manusia, Vica Activa : kerja, karya dan tindakan, maka sepantasnya wilayah kaji sosial tak terhenti dengan sekedar pemahaman saklek akan kondisi perubahan dan dinamika konteks bepikir, terus menggeber dengan oktan tinggi dalam mencapai hakikat esensial hidup yang berpacu dengan waktu.(ini saya kutip sedikit dari pemikiran Hannah Arendt, tentang refleksi kritisnya terhadap etos kerja manusia)"Helen Against Wall with Door," by George Segal, painted plaster and wood, 38 by 55 by 15 inches, 1987Ada nilai nilai politis dan agenda sosial yang kerap melintas dalam pemahaman kita untuk mengapresiasikan sejenis penyajian estetika tingkat tinggi saat ini. Sesuatu yang diumbar sebagai pemahaman akan ketertarikan tema dan wilayah “basah” para praktisi, pemikir dan individu sosial dalam mengkreasikan medan “permainannya”. Ketika ini menjadi sebuah titik tolak akan munculnya skeptisitas dalam wilayah dan area berpikir saat ini. Narasi yang muncul karena titik temu dan nilai jenuh yang kerap kali menghantui esensi pluralisme dalam wilayah lokal. Hanya bagaimana kita secara sadar mempergunakan wilayah ini untuk sekedar “berpihak” dan menggunakan elemen sosial dengan tidak lagi menelan mentah mentah selayaknya pola pikir sederhana segolongan sosial dalam konteks lokal.Dialektika sederhana tentang bagaimana menafsirkan bingkai bingkai keberpihakan kita selama ini terhadap budaya, yang timbul karena arus perubahan.Mungkin saja ini adalah refleksi kritis atas pemikiran yang menoleh dunia ketiga, kesadaran oposisi yang dualistis. Yakni melakukan kesadaran mengikuti perkembangan internasional dan mencoba menentang pemikiran sama rata dan arus universalisme global demi melakukan kepentingan identitas dan yang satunya lagi melakukan kesadaran untuk mengidentifikasikan diri, mengenali wacana terdalam yang sayangnya tak diikuti oleh kompromisitas.Suatu titik tolak yang saling bertentangan, berawal dari kesadaran yang sama.Ada baiknya jika kita sebaiknya menentang nilai nilai relative dan nisbi ini. Bukan sekedar akumulasi kekecewaan yang kian menggunung akibat suguhan informasi, hiburan, suguhan dan refleksi wilayah batin sosial yang seperti sampah, junk food,yang cenderung kurang santun dalam mengaplikasikan diri dan kerapkali mendongkrak tuduhan pendangkalan wahana berpikir. Namun apa yang ada di balik itu, motivasi dan tujuan yang hendak diungkap.
posted by wahyudi pratama @ 8:59 AM 1 comments
Monday, February 14, 2005

Estetika Miring
Menciptakan Pemahaman Sempit ? Kesalahan Kesalahan yang di anggap benar ??Dalam hal ini sang individu yang di masalahkan adalah kita.Objek yang di tawarkan adalah Estetika. Kadar pemahaman dan nilai nilai relatif yang di tawarkan lewat bentuk yang di yakini menyimpan nilai nilai keindahan, keagungan, makna sosial, bercerita dan lain sebagainya.Permasalahannya : Ada kesalahan yang dibenarkan berdasarkan kondisi dan pemahaman estetika yang terus berulang ulang di kemas dalam berbagai lapisan sosial yang mengakibatkan degradasi nilai nilai imajiner dan kurangnya pembelajaran yang baik atas akar masalah estetika itu sendiri dan pucuk pucuk persoalan.Jean Tinguely, "Le Ballet des pauvres", 1961 Ada semacam permasalahan yang muncul ketika perpaduan tentang salah urus estetika di benarkan dalam nilai nilai aplikatif karya yang di tawarkan. Sikap estetika ini tentu sangat dipengaruhi oleh "sikap ideologi" dari individu , selaku objek politis dan kreatornya. Sikap ideologi dimaksud tidak selalu berarti sang individu dan kreator harus berafiliasi kepada orientasi ideologi politik tertentu, karena yang demikian berarti ideologi telah mengalami formalisasi. Setiap yang mengalami "formalisasi" sering kali justru mengalami deviasi (penyimpangan), karena ideologi telah tereduksi menjadi aspek teknis. Sikap ideologi dimaksud lebih semacam world view (pandangan dunia), yaitu bagaimana manusia melihat alam semesta ini.Ada permasalahan yang menarik ketika seorang Ahmad Sahal menyikapi Kultural Studi sebagai biang kerok kerancuan nilai nilai normatif estetika yang melemparkan wujud estetika sosial kedalam fenomena salah urus, dan memiskinkan jarak yang di anggap wajar untuk memahami asal usul dan tinjauan genealogis. Sebuah ketakutan yang dianggap wajar, dan perlu untuk disimak. Wujud purifikasi esensi wilayah estetika.Hasrat untuk lebih mengutamakan kebersamaan dalam keragaman dimana seharusnya institusi yang resmi dan terkait lebih menciptakan kesempatan pembelajaran pokok permasalahan dengan baik dan tepat guna.Gilbert and George Dress-U-Up by David Gauntlett, featuring photography sampled from Nine Hundred (1999) by Gilbert and George.Inilah, salah satu wujud kekhawatiran akan trendsetter, lihat bagaimana imaji penting di ciptakan berulang ulang sampai menohok titik jenuh daripada visual dan estetika penyajian gaya kehidupan dan sosialisasinya. Sebuah wahana praktik sosial yang penuh disiplin otonomi, di mana kehidupan dan pemahamannya menciptakan imaji dan wawasan estetika semu yang tertinggal dan terus berulang di bagian pucuk sosial sebagai penikmat dan permasalahannya.Semoga hal ini bisa dimaknai dengan baik. Bagaimanapun juga semoga pemahaman tentang estetika sendiri bisa jadi amat sangat sulit untuk disamaratakan.Bukan sekedar bagaimana saya mengutip impian ideal tentang penyadaran di dalam masyarakat lewat estetika, dalam hal ini , seperti yang di tulis oleh George Lukacs (1885-1071), sehingga ada nilai nilai ideal yang berpjak pada pandangan realis.(Walau Lukacs, sendiri berangkat dari pemahaman kiri).Estetika sendiri, kita percaya bahwa pada mulanya adalah perbuatan. Sang kata mengikuti, sebagai bayang-bayang fonetiknya.
posted by wahyudi pratama @ 6:25 PM 0 comments

Absolutisme dalam selera humor.
Saya tertawa apek melihat Tessy dan Komeng saling bercanda di trans TV.Charlie chaplin mati matian mengabadikan gerak slapsptick dalam filem bisu untuk mengundang tawa.Benyamin S berperan sebagai Samson dalam Samson Betawi, yang kehilangan kekuatannya karena bulu ketiaknya rontok di cukur. Saya tertawa karena melihat hal hal bodoh yang kerap kali terjadi di acara acara serius di televisi. Menurut Oxford Dictionary sendiri;laugh —v. 1 make the sounds and movements usual in expressing lively amusement, scorn, etc. 2 express by laughing. 3 (foll. by at) ridicule, make fun of. —n. 1 sound, act, or manner of laughing. 2 colloq. comical thing. laugh off get rid of (embarrassment or humiliation) by joking. laugh up one's sleeve laugh secretly. [Old English]Menilik pola pemikiran yang mengundang tawa. Bagaimana cara ungkap pendapat yang menyentuh wujud akhir dari audiens dalam mengekspresikan salah satu rangsang serotonin didalam otak untuk mengeluarkan apa yang di sebut tertawa.Dan tertawa merupakan bentuk akhir dari salah satu upaya meredam gejolak emosi terhadap apa yang disebut sebagai humor. Humor di indikasikan berubah bentuk menjadi tertawa.Saya juga tak mengerti mengapa saya bisa terbahak bahak dan terheran heran melihat sesuatu yang di anggap lucu dan tidak lucu namun keduanya dianggap saling bertentangan. Humor ternyata tak bisa di tanggalkan begitu saja tanpa menilik nilai nilai yang ternyata dalam tertawa pun sudah memasuki area nihilitas batasan. Tak adanya nilai polarisasi antara lucu dan tidak lucu di saat kita tertawa. Humor = lucu = terpingkal pingkal = mencari masalah = antara tak lucu dan momen yang amat jarang = lucunya apa ? = objek sendiri yang sengsara + susah = akrab = mabuk ganja = diam diam saja = senangnya ada orang yang sengsara = ditipu orang = melorotkan celana = garing kering kerontang alias benar benar tidak ada lucunya sama sekali = Humor lagi deh. Ternyata saya salah, humor tak bisa sesederhana yang saya perkirakan.Saya sendiri pun suka bingung kok bisa ada yang mambuat kita tertawa. Kalau ada yang mengatakan “ Ah memang kenapa? kalo lucu ya ketawa saja, gitu aja repot pake di pikirin segala!”, justru itu saya jadi bingung apakah saya terlalu bodoh untuk menanyakan kenapa kita tertawa dan terlalu kritis yang menyebalkan untuk mempertanyakan apa yang kita tertawakan .Sesekali mikir juga hehehe.Tertawa merupakan gerak dan rangsang otot yang mengakibatkan sinkronisitas pola kerja otak terhenti dengan mengeluarkan energi bunyi yang terlebih dahulu di gunakan dari daya imajinatif. Disaat tertawa ternyata kita mengalami apa yang disebut upaya mengeluarkan energi besar dari dalam tubuh. Representasi dari akumulasi gerak otot di sekitar wajah dan leher yang muncul selain kemarahan . Tertawa ternyata menghentikan sejenak aliran darah di otak kita. Sama halnya ketika kita bersin, orgasme ataupun menguap. Yang berarti “mati sejenak”. Humor mengandung suatu pemahaman tersendiri. Saya mungkin tak akan dapat mendeskripsikan humor itu apa. Jika kita melihat tentang humor itu sendiri, dari manakah tradisi kelucuan yang dapat membuat orang dan seluruh umat manusia terpingkal entah kapan telah di mulai, mungkinkah setua umur manusia itu sendiri ? bagaimana dengan humor yang pertama kali muncul di dunia ? Apakah nabi Adam sendiri tertawa terbahak bahak saat telah berhasil mengambil buah terlarang yang disertai pula olehnya kesedihan pertama kali di diri umat manusia ? Apakah ketika kita lahirpun kita tertawa sesaat kepala menyembul dari liang rahim sang ibu ? Apakah Tuhan sering tertawa ketika menyaksikan umat manusia hasil ciptaanNya berbuat bodoh ?Humor mungkin adalah salah satu upaya memberikan nama pada proses membekukan momen kerja otak lewat yang dianggap sebagai kesepakatan yang di sebut sebagai tertawa. Dan tertawa ternyata memberikan konstribusi penting bagi emosi yang dianggap memberikan bahan bakar dari senyawa hidup yang meningkatkan dorongan penting dalam segala aktifitasnya, amat jauh lebih nyaman dan menyenangkan dari agresivitas yang ditujukan untuk memelihara sifat dan perilaku brutal kebinatangan untuk mempertahankan insting survival manusia itu sendiri.Tertawa ternyata bisa bernilai absolutDan semakin gak lucu kalo di bikin serius hehehehe
posted by wahyudi pratama @ 9:45 AM 1 comments
Friday, February 11, 2005

Bias gender dalam posisi kesetaraan
Masalah ini muncul ketika saya melihat gerak dan pola perilaku berpikir dalam media ungkap dengan melihat buku buku yang saya baca di latar belakangi masalah gender.Saya menilai ada landasan logika hitam putih yang mengarah pada perlawanan secara frontal landasan logis permasalahan gender dengan masih memberikan logika yang senada. Ini bukan sekedar tarik ulur kedalam wilayah yang lebih dalam,yakni feminisme dan upaya membongkar permasalahan di dalamnya. Dimana upaya memandang dan mengangkat sesuatu yang baru menjadi amat sangat ringkih dengan akumulasi logika dan bias kesetaraan yang kerapkali di pertanyakan. Sesuatu yang saya pikir jika di bahas saat ini akan memberi reaksi keras bagi teman teman saya yang berjenis kelamin wanita, dengan anggapan mengungkit terlalu dalam akan politik kesetaraan yang sudah mulai usang di makan oleh dinamika warna hidup dan area kontemporer saat ini pula. Bisa jadi saya akan terlihat seperti mengulur ulur benang dan menautkannya kedalam selubung permasalahan feminisme, yang di bungkus oleh gender dan kesetaraan, namun saya hanya mencoba memaparkan apa dan bagaimana gender itu di mata saya.Saya kerapkali mendengar permasalahan gender dalam aplikasi apapun selalu berteriak lantang dan “marah-marah”. Menentang superioritas kaum lelaki yang di nyana dari dulu telah mendominasi baik lewat ideology dan pemahaman budaya yang di sosialisasikan lewat agen agen sosial yang cenderung seksis dalam medium dan budaya itu sendiri. Penentangan sepihak yang saya rasa lebih baik di camkan dan di cermati dengan baik. Bahwa sebenarnya mengamati kesetaraan adalah tugas kita semua, saling mengamati dan memberikan takaran terbaik dalam proses epistemik kita. Dimana saat ini amatlah jarang, proses pembelajaran dan penghargaan terhadap konsep androginitas yang nyatanya memang sangat sulit untuk diterapkan. Perbedaan adalah khasanah nyata dan kasat mata. Bukan lagi semacam persamaan dalam kondisi lintas global, kemanusiaan. Tapi mendadak menjadi isu gender ketika salah satu aturan yang dijalankan di pegang dan di utamakan dalam konteks sosial yang cenderung dari sudut pandang negara dunia ketiga, di pegang oleh dominasi kaum pria. Ketika seseorang berteriak dalam media ungkap seperti contohnya penulisan, novel dan media film, mengungkapkan bahwa politik kata kata dalam mengungkapkan konotasi seksual secara vulgar adalah sah dan biasa, ini mungkin harus di telaah lebih lanjut, dalam konteks apa yang pantas dan urgensi yang tercakup dalam hal ini. Untuk menghindari semacam pendangkalan etika dan proses kritis. Yang saya rasa ini wajar untuk dikaji ulang, sedemikian dan serumit apakah masalah yang di teriakkan sebenarnya ? mengingat konteks lokalitas di kita yang sebenarnya terhitung baru menghirup euphoria kebebasan dalam mengekspresikan pendapat. Lihat saja bagaimana tulisan dan pemikiran Pram (yah standar lah) benar benar sudah dapat dinikmati secara bebas dan orientasi kekirian (yang sering salah kaprah), dapat di susupkan lewat media sosial dan jargon kebebasan gerakan anak muda di kota kota besar. Meredefinisikan system dan ideology yang telah lama dilarang dengan wujud baru yang cenderung menghindarai polarisasi nilai nilai.Untuk itulah jika kita mengamati media sebagai agen sosial, betapa permasalahan dan wacana seksis yang di tawarkan begitu luar biasa padat dan tak terkendali.Selama TV culture terus bergerak, dengan muatan nilai ideologis, kepentingan komersil yang tak bisa di pisahkan, semakin mengukuhkan bawaan nilai nilai yang bersifat “kelontongan”.Hal ini tentunya menawarkan suatu wacana pergulatan nilai kritik. Tawaran akan suatu upaya memaparkan apa itu hak dan ekualitas dalam posisi sosial. Ini bisa jadi sekedar semacam solusi tentang apa dan bagaimana gender dapat di adaptasikan secara normal dan bukan lagi penyama-rataan hak dan posisi yang seringkali masih di anggap sekedar angin lalu. Dan bagaimana pula gender sering di kaitkan dengan area pertentangan hierarki antara lelaki dan perempuan yang masih sering di dengung dengungkan. Suatu permasalahan klasik semenjak feminisitas muncul. Inilah upaya mereduksi hubungan dan dominasi salah satu pihak yang cenderung opresif dengan kehadiran kuasa. Sebentuk permasalahan klasik yang kian lama kian memuncak dalam suatu konteks globalitas hak dan nasib.Begitulah, masalah ini muncul begitu saja ketika menalar dan melihat permasalahan yang terjadi di dalam konteks lokal. Apa yang saya rasakan ketika mendengar informasi tentang pandangan dan struktur baru yang terlihat lebih “mapan”. Bagaimana ideology patriarchal perlahan mulai berubah. Ideology kapitalisitik yang memberikan ruang gerak yang meluas secara perlahan bagi kaum wanita. Inilah emansipasi, yang di manfaatkan sebagai perluasan wilayah industri dalam masyarakat. Emansipasi di susupkan secara rinci dalam kesetaraan untuk mengaktifkan kesadaran produksi yang mana tak mengenal batasan usia, kelamin dan status. Kesemuanya di tarafkan dalam kesadaran dari struktur masyarakat feodalistik yang kemudian menjadi industrialis kapitalistik. Kesemua batasan di hilangkan dalam penunjang industri tersebut. Sexual dan permasalahan kesetaraan telah perlahan menjadi komoditas, yang makin menegaskan “ke-suara lantang-an” bahwa kesetaraan adalah hal yang paling hakiki dalam hidup dan sosial di masyarakat. Sex yang lebih kepada kesepakatan dan mengesampingkan tabu-isme dalam komoditasnya berubah menjadi mesin pencetak uang,mesin hasrat yang di komersilkan, sebagai sesuatu yang menjadi sumber inspirasi isu isu yang di angkat dalam politik kesetaraan dan posisinya.Sekali lagi pemutar balikan posisi permasalahan dalam hal ini adalah salah satu dari konsep utama hierarki kapitalistik, sama halnya Amerika Serikat mencari dan membuat musuhnya sendiri dengan menegaskan posisi sebagai polisi Dunia.Anggap saja ini sekedar sekelumit pemikiran, merupakan suatu bentuk kepentingan filosofis dalam sudut pandang perspektif pribadi tentang gender dan posisi kesetaraan itu sendiri.(saya teringat film " I Shoot Andy Warhol" yang mengetengahkan SCUM manifesto dari Valerie Solanas, walau tak seekstrim itu dan tulisan dari Kris Budiman tentang topik2 seperti ini)

Selasa, 18 Agustus 2009

konsep karya

apa kabar...... tolong kirimkan konsep karyamu

Rabu, 10 Juni 2009

gundah

akan sampai kemanakah semerbakmu digelagak hati
agar tidak sia2 anak2ku mencari seorang ibu dengan wangi yang abadi
lantaran cinta, kasih sayang dan kemesraan....
Hidup ini indah kata orang
nun...... jauh disana sepasang kijang kencana bercanda dikeheningan malam yang sepi
andai saja kijang kencana itu adalah kau dan aku dan jika tidak
berilah aku arti ketika itu